Berita Terbaru

Displaying 11-19 of 19 results.
foto
[04 Dec 2014] Finalisasi Skema Uji Kompetensi Tingkat 2

Dua hari sejak kemarin (3/12) dilakukan pembahasan skema kompetensi kerja pada ketinggian tingkat 2 di Halim, Jakarta Timur. Kegiatan difasilitasi oleh Pusat K3 Kementrian Tenaga Kerja. Beberapa personil AKPK Indonesia terlibat secara aktif bersama peserta lainnya dalam membahas alat uji berupa soal-soal dan instruksi kerja.

Hasil dari kegiatan adalah perangkat uji kompetensi (PUK) yang akan menjadi pedoman bagi asesor dalam melakukan asesmen kompetensi yang akan difasilitasi oleh lembaga sertifikasi profesi (LSP). 

Tujuan dari kegiatan adalah terbentuknya tenaga kerja yang mempunyai kompetensi untuk melakukan kerja pada ketinggian di berbagai sektor. 

foto
[27 Nov 2014] Penyusunan Skema Kerja Pada Ketinggian Tingkat-2

Sejak tanggal 24 Nop kemarin Pusat K3 Kemenakers sedang melakukan proses penyusunan skema kualifikasi K3 Bekerja pada Ketinggian Tingkat-2 berdasarkan SKKNI yang telah disyakan pada tahun 2011 berdasaran keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 325/2011.

Beberapa personil AKPK Indonesia dipimpin oleh Moch Rachwa secara aktif terlibat dalam proses penyusunan untuk memberikan masukan terkait dengan teknis pekerjaan pada ketinggian.

Kualifikasi Bekerja pada Ketinggian Tingkat-2 adalah kelanjutan dari tingkat satu yang telah melakukan uji kompetensi sebanyak dua kali sejak Juni 2014. Dengan memiliki kualifikasi tingkat-2, salah satu kompetensi yang akan dimiliki pekerja adalah melakukan gerak bebas pada ketinggian artinya pekerja tidak lagi tergantung pada ada atau tidak-adanya tangga atau jembatan permanen untuk berpindah lokasi pada ketinggian.

Diharapkan tahun depan kualifikasi tingkat-2 sudah dapat diujikan, perlu diperhatikan bahwa pada saat penyusunan skema disyaratkan bahwa peserta yang akan mengambil tingkat-2 telah mempunyai sertifikat tingkat-1 serta mempunyai pengalaman kerja pada ketinggian.

foto
[04 Nov 2014] Jenis Pekerjaan Untuk Kualifikasi Teknisi 1

Banyak pertanyaan dari peserta pelatihan kualifikasi bekerja pada ketinggian teknisi 1 "Apa yang dapat kami lakukan nanti?" Ya, teknisi 1 dirancang untuk jenis pekerjaan pada ketinggian yang paling dasar, yaitu pekerja mencapai tempat kerja pada ketinggian dengan sarana untuk mencapainya dengan aman. Sarana pencapaian dapat berupa tangga (ladder) untuk naik atau turun dan jembatan (bridge) untuk bergerak horisontal maju atau mundur.

Ada beberapa pekerjaan yang sesuai dengan uraian tersebut, misalnya operator tower crane di proyek kontruksi atau sarana pelabuhan peti kemas. Untuk mencapai ruang kerjanya yang bisa mencapai 100 meter lebih diatas tanah, para operator harus naik tangga yang memang disediakan untuk itu. Banyak hal bisa terjadi, terpeleset karena licin atau ganggungan alam seperti angin kencang yang dapat menyebabkan pekerja jatuh bebas. Atau pekerjaan lain seperti tukang tembok atau tukang cat yang harus menggunakan perancah dan naik/turun tangga atau menyebrang struktur dalam perancah untuk melakukan pekerjaannya.

Pekerja pada ketinggian dengan kualifikasi teknisi 1 pada dasarnya hanya mempunyai kompetensi untuk naik-turun atau menyebrang memanfaatkan sarana yang ada menggunakan peralatan paling sederhana pada ketinggian yaitu fullbody harness dan lanyard, selain tentunya alat pelindung diri yang juga sesuai dengan pekerjaan pada ketinggian. Para teknisi 1 tidak mempunyai keahlian untuk merancang dan membuat titik pengaman. Merekapun tidak dibekali kemampuan untuk mencapai titik pada ketinggian jika sarana untuk mencapainya belum disediakan. Dan mereka tidak mempunyai kompetensi untuk merancang dan memasang sarana untuk mencapai ketinggian seperti tangga. 

Foto: Cara bekerja pada ketinggian yang sangat membahayakan dirinya dan orang lain.

foto
[24 Oct 2014] Pelatihan Teknisi 1 Work at Height di Yogyakarta

Bekerjasama dengan KPT Merah Putih dan SAR DIY, asosiasi menggelar pelatihan Teknisi 1 Angkatan Ke-2 di Yogyakarta (23/10). Pelatihan diikuti oleh 15 peserta dari para penggiat SAR yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya. 

Rekan Mochamad R Siswantoni dibantu oleh Adi Cahyadi membimbing peserta memahami seluruh materi pelatihan berbasis kompetensi kerja tersebut yang terdiri dari lima unit kompetensi sebagai prasyarat menjadi Teknisi 1 Bekerja pada Ketinggian. 

Selama pelatihan yang berlangsung sehari penuh itu, seluruh peserta mengikuti semua materi dengan seksama di ruang pertemuan Markas SAR DIY. 

foto
[22 Oct 2014] Peresmian LSP K3 Indonesia

Setelah melalui proses yang melelahkan yang memakan waktu hampir setahun lebih akhirnya Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) kemarin (21/10) menyerahkan lisensi kepada LSP K3 Indonesia sebagai lembaga sertifikasi profesi yang berhak menerbitkan sertifikat kompetensi sesuai standard kompetensi kerja nasional Indonesia (SKKNI), salah satunya adalah K3 Bekerja pada Ketinggian.

AKPK indonesia adalah salah satu asosiasi yang menjadi motor terbentuknya LSP K3 Indonesia dipercaya untuk menjadi salah satu chanelling bagi para pekerja pada ketinggian untuk mendapatkan sertifikat kompetensi. Skema yang dapat diambil saat ini baru Teknisi 1 dan Teknisi 2 Bekerja pada Ketinggian, masing-masing menguji 5 dan 6 unit kompetensi. 

Untuk memudahkan peserta uji dalam mendapatkan sertifikat kompetensi, AKPK Indonesia bekerja sama dengan beberapa lembaga pelatihan mengadakan kursus berbasis kompetensi kerja kepada calon peserta uji kompetensi. 

foto
[19 Sep 2014] Pelatihan Instruktur Kerja pada Ketinggian

Bertempat di Bandung, Jawa Barat dibawah cuaca yang sangat cerah asosiasi mengadakan kegiatan pelatihan calon instruktur kerja pada ketinggian level pratama. Pelatihan diikuti oleh peserta internal anggota asosiasi. 

Materi pada pelatihan adalah peraturan perundangan K3 dan standard kompetensi kerja nasional Indonesia. Tujuan dari pelatihan adalah agar instruktur dapat memberikan pelatihan yang efektif bagi para pekerja yang akan mengikuti uji kompetensi tingkat teknisi kerja pada ketinggian. 

Pelatihan serupa akan dilakukan diberbagai kota di Indonesia dalam waktu dekat yang bertujuan agar program sertifikasi kerja pada ketinggian dapat segera terserap ke seluruh penjuru Indonesia. 

foto
[29 Jun 2014] Hak dan Kewajiban Pekerja pada Ketinggian Terkait K3

Tidak banyak pekerja pada ketinggian yang tahu dan menyadari bahwa mereka mempunyai hak dan kewajiban terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Ketidaktahuan ini menjadi sebab yang cukup dominan atas terjadinya kecelakaan kerja: "Wah, saya tidak tahu pak!" sering kita dengar dari korban kecelakaan yang masih bisa diajak komunikasi. Padahal hak dan kewajiban tersebut secara tegas diatur dalam Undang-undang No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

Kerja pada ketinggian menurut UU No.1/1970 termasuk satu kegiatan kerja yang wajib mengikuti aturan K3, sehingga pekerja pada ketinggian pun tidak luput dari hak dan kewajiban pada K3 yang secara khusus diatur pada Bab VIII.

Ada 5 poin penting yang perlu diketahui oleh pekerja pada ketinggian yaitu:

  1. wajib memberikan keterangan yang benar jika diminta oleh pegawai pengawas atau pegawai keselamatan kerja.
  2. memakai alat perlindungan diri (APD) yang diwajibkan
  3. memenuhi dan mentaati syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan
  4. meminta kepada pengurus (pemberi kerja) agar dilaksanakan semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan
  5. menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan dimana syarat kesehatan dan keselamatan kerja serta alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya kecuali dalam hal-hal khususditentukan lain oleh pegawai pengawas dalam batas-batas yang masih dapat dipertanggung jawabkan.

Khusus untuk poin 3 kita sebagai pekerja pada ketinggian tentunya sudah faham apa yang menjadi syarat K3-nya, paling sederhana adalah keberadaan alat penahan jatuh perorangan (full body harness, lanyard, dan cincin kait) yang sesuai standard, serta kemampuan kita menggunakan alat tersebut dan mengidentifikasi bahaya kerja, jika kita tidak mempunyai dua kemampuan ini mana mungkin kita berani menyuarakan poin 4 dan 5 yang sebetulnya menjadi hak kita sebagai pekerja.

Khusus bekerja pada ketinggian, K3 adalah faktor yang tidak boleh diberikan toleransi sedikitpun. Karena kegiatan kerja ini mengandung risiko yang sangat tinggi karena sangat sering terjadi kecelakaan, dan kalau ada kecelakaan konsekuensinya pun kebanyakan adalah fatal. Jika persyaratan K3 diabaikan maka kita sebetulnya sudah melakukan perjudian dengan taruhan nyawa kita sendiri, sehingga kalau ada kemenangan dalam perjudian itu kita tahu siapa yang diuntungkan sementara kalau terjadi kekalahan pasti kitalah yang jadi korbannya. Masih gak mau tahu juga? Foto: Net

foto
[18 Jun 2014] Pelatihan Kerja pada Ketinggian Teknisi 1

Senin (16/6) kemarin asosiasi menggelar kegiatan pelatihan kerja pada ketinggian teknisi 1 di Bandung Jawa Barat. Kegiatan tersebut terselenggaran berkat kerjasama dengan komunitas kerja pada ketinggian yang ada di Bandung. Selain dari Bandung dan sekitarnya, peserta ada juga yang berdomisili di Jakarta dan Pangkal Pinang. 

Instruktur pelatihan dipimpin oleh Haddy A Chalidi. Seluruh peserta yang berjumlah 22 orang mengikuti paparan dan praktik lapangan dengan antusias. Setelah pelatihan berakhir dilakukan uji kompetensi oleh asesor dari LSP K3 Indonesia. 

Kegiatan yang dimulai sejak pukul 9 pagi berakhir selepas magrib. Kegiatan dapat dikatakan berjalan dengan lancar tanpa hambatan yang berarti. Rencananya setelah pelatihan ini akan digelar pelatihan yang sama di beberapa kota lainnya di Indonesia antara lain Yogyakarta, Semarang, Batam, dan Pangkal Pinang. Untuk Bandung sendiri sudah direncanakan pelatihan kembali pada bulan Agustus tahun ini juga. 

foto
[27 May 2014] Asosiasi yang Lahir dari Kepedulian Bersama

Pembentukan asosiasi kita ini dipicu oleh kepedulian bersama mengenai perkembangan perlindungan keselamatan kerja pada ketinggian, sehingga pada awal Desember 2013 sekelompok pelaku kegiatan kerja pada ketinggian berkeras untuk membentuk asosiasi yang diberi nama Asosiasi Kerja Pada Ketinggian Indonesia (AKPK Indonesia).

Asosiasi ini menghimpun pelaku dan penggiat kerja pada ketinggian yang mempunyai kepedulian dan berkecimpung pada kegiatan kerja pada ketinggian. Tujuan utama dari asosiasi adalah mengembangkan dan memajukan kegiatan dan penggiat kerja pada ketinggian

Disadari bahwa tingkat keselamatan kerja sangat ditentukan oleh pekerja itu sendiri, sedangkan pengusaha seringkali hanya sebagai faktor yang juga ikut menentukan. Dengan membentuk asosiasi ini pekerja pada ketinggian akan lebih berperan dalam mendorong kepedulian keselamatan kerja yang sebetulnya diamanatkan oleh UU Keselamatan Kerja pada para pengusaha dan Pemerintah sebagai pembuat kebijakan. Foto: Contoh salah prosedur kerja pada ketinggian di sebuah hotel di Jl Cikin Raya Jakarta